Selasa, 03 Oktober 2023

Food

 BATAK'S FOOD

1. Naniura 
Dengke Mas na Niura adalah makanan tradisional khas Batak yang berasal dari Tanah Batak khusus nya di wilayah Toba, Pulau Samosir, Danau Toba, Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Dekke Naniura merupakan salah satu kuliner Khas Tanah Batak (Toba dan sekitarnya), resep pembuatannya turun-temurun dari para leluhur Orang Batak yang tinggal di pesisir Danau Toba. Dekke Naniura dalam bahasa Batak artinya ikan yang tidak dimasak melalui api / dalam Bahasa Batak: Dengke Mas na Niura. Ikan atau dalam bahasa batak disebut ihan merupakan bahan dasar pembuatan dekke naniura. Selain ikan mas segar mentah tanpa dimasak namun tidak amis. Ikan Mas diberi asam atau air buah Unte Jungga dan bumbu dari rempah – rempah, kemudian didiamkan beberapa jam (sekitar 3–5 jam) yang kemudian setelah masak hasil dari proses fermentasi, sudah bisa disantap. Selain ikan mas, kita dapat juga memilih ikan nila, ikan mujahir atau beberapa jenis ikan lainnya. Dekke Naniura merupakan salah satu kuliner Khas Tanah Batak (Toba dan sekitarnya), resep pembuatannya turun-temurun dari para leluhur Orang Batak yang tinggal di pesisir Danau Toba. Dekke Naniura dalam bahasa Batak artinya ikan yang tidak dimasak melalui api / dalam Bahasa Batak: Dengke Mas na Niura. Ikan atau dalam bahasa batak disebut ihan merupakan bahan dasar pembuatan dekke naniura. Selain ikan mas segar mentah tanpa dimasak namun tidak amis. Ikan Mas diberi asam atau air buah Unte Jungga dan bumbu dari rempah – rempah, kemudian didiamkan beberapa jam (sekitar 3–5 jam) yang kemudian setelah masak hasil dari proses fermentasi, sudah bisa disantap. Selain ikan mas, kita dapat juga memilih ikan nila, ikan mujahir atau beberapa jenis ikan lainnya. Dekke naniura pada zaman dahulu disajikan hanya pada momen-momen tertentu yang istimewa saja. Dekke naniura dijadikan menu makanan istimewa yang dihidangkan khusus menjamu para raja serta pada upacara-upacara adat di Tanah Batak. Bahkan para Raja dahulu hanya mempercayakan kepada orang-orang tertentu saja untuk membuat Dekke naniura. Mungkin bagi sebagian orang, Dekke naniura terasa agak aneh di lidah. Terlebih bagi mereka yang baru pertama kali mencicipi kuliner yang mirip dengan olahan sashimi dari Jepang atau Ceviche hidangan khas negara Peru. Rasa daging ikan yang diasami itu tentu berbeda dengan yang dimasak secara konvensional. Tentu ada sensasi tersendiri dalam menyantapnya. Meski terasa lembut, namun seratnya tetap terasa seolah mentah. Tetapi justru di situlah letak keunikannya. Ditambah lagi dengan bumbunya yang memadukan asam-pedas membuat rasa semakin seru di lidah.


2. Sangsang

Sangsang adalah masakan khas masyarakat Batak yang terbuat dari daging babi, daging anjing, atau daging kerbau yang dicincang kecil dan dibumbui dengan rempah-rempah, serta dimasak baik dengan menggunakan darah hasil sembelihan hewan tersebut ataupun olahan rempah biasa tanpa darah. Sangsang (dibaca: saksang) adalah masakan khas masyarakat Batak yang terbuat dari daging babi, daging anjing, atau daging kerbau yang dicincang kecil dan dibumbui dengan rempah-rempah, serta dimasak baik dengan menggunakan darah hasil sembelihan hewan tersebut (margota) ataupun olahan rempah biasa tanpa darah (naso margota). Rempah yang termasuk dalam bumbu saksang antara lain; jeruk purut dan daun salam, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai, merica, serai, jahe, lengkuas, kunyit, dan andaliman, karena mengandung daging babi atau daging anjing, serta darah, maka hidangan ini tidak halal dalam ajaran Islam atau ajaran agama yang tidak memperbolehkan memakan daging babi, daging anjing serta darah.[5] Biasanya dalam pesta pernikahan adat Batak, tamu undangan yang Muslim dipisahkan sajian hidangan dan bufet prasmanannya dari hidangan khas suku Batak ini.


3. Manuk Napidar
Manuk Napinadar atau Ayam Napinadar adalah masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu, biasanya disajikan saat seseorang sedang mengalami suka cita seperti kelahiran anak, pernikahan, dan saat seseorang akan berangkat merantau. masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu, biasanya disajikan saat seseorang sedang mengalami suka cita seperti kelahiran anak, pernikahan, dan saat seseorang akan berangkat merantau. Bagi masyarakat Batak, ayam napinadar memiliki filosofi yaitu sebagai sarana untuk memanjatkan doa dan dapat memberikan semangat dan berkat. Dengan memberikan hidangan ini ke seseorang maka harapannya seseorang tersebut dapat mendapatkan kesehatan dan berkat yang melimpah

 

4. Mie Gomak
Mi gomak adalah masakan khas Batak Toba dan Batak Mandailing yang berasal dari wilayah Sumatera Utara. Masakan ini adalah hidangan khas daerah sekitar Danau Toba, mulai dari Porsea, Balige, Laguboti, Tarutung, hingga Tapanuli Selatan. Mi gomak juga dapat ditemukan di berbagai daerah di Sumatera Utara, mulai dari Medan, Siantar, Parapat, Labuhan Batu, Sibolga, hingga Deli Serdang. Tetapi Mi gomak sudah terkenal di berbagai provinsi dan juga beberapa masyarakat Indonesia yang berbeda provinsi menyukai hidangan khas Batak (Toba dan Mandailing) ini. Sebagian menyebutkan, mungkin karena awalnya mi ini disajikan dengan cara "gomak" yang berarti "ambil" atau "peras" dalam bahasa Batak Toba. Mi akan di-gomak atau dipegang/digenggam dengan tangan kosong sebelum disajikan di piring.[2] Hingga sekarang sebagian penjual masih memakai tangan yang dilapisi plastik atau sarung tangan untuk menyajikan mi gomak. Sedangkan penjual yang lain menggunakan sendok atau garpu



5. Lampet
Lampet (dibaca: Lappet) adalah salah satu panganan tradisional masyarakat Batak yang terbuat dari tepung beras, kelapa parut, dan parutan gula aren. Campuran ini kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dengan bentuk menyerupai limas. Setelah itu, lampet dikukus hingga matang. Kue Lapet diyakini berasal dari daerah Tapanuli, Sumatera Utara. Tapanuli merupakan wilayah yang didominasi oleh suku Batak. Kue ini telah menjadi bagian penting dari berbagai acara adat dan upacara dalam kehidupan masyarakat Batak. Kue Lapet memiliki makna simbolis dalam berbagai peristiwa dalam kehidupan masyarakat Batak. Dalam tradisi Batak, kue lapet memiliki makna yang mendalam. Bentuk kue yang persegi panjang melambangkan stabilitas dan kekokohan, menggambarkan kesatuan dan keutuhan keluarga serta masyarakat. Ketan yang lengket mengandung arti persatuan dan persaudaraan, menggambarkan keharmonisan dan kebersamaan di antara anggota masyarakat Batak. Dalam perayaan adat Batak, kue lapet juga dianggap sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan. Oleh karena itu, sering kali kue ini disajikan dalam jumlah banyak dan diberikan kepada tamu-tamu sebagai bentuk kedermawanan dan menghormati mereka. Kue lapet sering dihidangkan dalam acara-acara tertentu dalam budaya Batak


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NIKI

NIKI (NICOLE ZEFANYA) BIO DATA NIKI :    Nama lengkap: Nicole Zefanya Nama panggung: NIKI Lahir: Jakarta, 24 Januari 1999 Pendidikan: Jurus...